Rabu, 28 Desember 2016

mengomentari esai teman

Nama : Fitria Ningrum Kelas : 3E PBSI Npm : 15410206 Kurangnya Penyajian Pentas Esai Siti Hadiyanti Indah Lestari dalam tulisannya tetntan pementasan drama yang dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2016 di GP lantai 7 Universitas PGRI Semarang ini cukup menarik. Sekelompok komunitas mahasiswa dalam suatu teater dapat mengemas dua pertunjukan menjadi sangat menarik daya pikat penontonnya. Teater Gema nama sekelompok tersebut yang kini dapat mewakili dari kampus Universitas PGRI Semarang untuk mengikuti lomba drama tingkat Nasional. Gema mengemas dua pertunjukan dengan baik karena telah memiliki banyak pengalaman-pengalaman yang banyak. Kesalahan memang selalu ada dalam suatu kegiatan namun hal tersebut menjadi suatu hal landasan mereka untuk tetap menjadi lebih baik. Sebenarnya hal-hal yang kurang dalam pementasan itu tetap ada namun pertunjukan yang disuguhkan membuat penonton tidak mengerti di mana letak kesalahan tersebut. Mulai dari jam pementasan molor, terjadinya hal tersebut membuat penonton sedikit kecewa karena sudah menunggu lama dan berdesakan pula pementasan tidak segera dilaksankan dan hal itu hampir membuat penonton kecewa. Dalam tulisan Indah memang sudah ada kesalahan-kesalahan atau kekurangan dalam pementasan tersebut,namun kurang lengkap dalam pembahasannya. Sepenggal kalimat dalam tulisan Indah kurang dipahami maksudnya untuk dibaca. “cerita asmara jaka tarub bermulai dari mimpi yang di dapatkan jaka saat muda dan sangat dipercayainya. “ hal itu kurang penjelasan apa yang sebenarnya tentang sangat dipercayainya. Mimpi atau cerita asmara Jaka Tarub? Peran apa? Tulisan indah tidak dijelaskan bahwa peran apa yang diperankan oleh Tomo dan Topo dalam cerita. Ada hal negative dan positifnya yang dapat ditangkap oleh penonton. Hal negatifnya yaitu peran Tomo dan Toko tidak terlalu jelas dalam cerita,dan hal positifnya dapat memberikan serta menutupi ketika adegan Jaka tarub dan Nawangwulan menikah lalu dikarunia seorang anak yang dikandung Nawangwulan. Jika tidak diselingi munculnya tokoh Tomo dan Topo sepertinya cerita tersebut kurang masuk akal. “suatu hari jaka merasa aneh saat lumbung padi miliknya susah mendapatkan air,……”tulisan itu sedikit tidak bisa dipahami bahwasanya lumbung padi adalah tempat menyimpan padi tetapi Indah menjelaskan lumbung padi tidak mendapatkan air. Kemungkinan yang dimaksud susah mendapatkan air adalah sawah milik Jaka Tarub. Memang benar apa yang dikatakan Indah semua peran yang ditunjukkan dalam pementasan drama tersebut sangat menjiwai karakter masing-masing perannya. Background dan backsound menjadi tambahan kesempurnaan pentas tersebut. Lighting atau pencahayaannya memang menarik dan sesuai dengan ceritanya. Untuk adegan salah satu bidadari yang jatuh itu sepertinya memang tidak disengaja dan tidak terlalu fatal karena ada respon dari pemain lainnya sehingga itu terlihat seperti settingan adegan. Tambahan untuk kekurangan pementasan yaitu dalam segi luar cerita, terjadinya molor jam tadi, dua pembawa acara kurang komunikatif terhadap penonton jadi kesannya seperti garing dalam pembawaanya. Salah satu pemain juga mengenakan sandal(sandal gunung), memang tampilan mereka casual tetapi dalam sebuah acara peran pembawa acara juga termasuk dalam acara tersebut. Sebaiknya jika membawakan suatu acara alangkah lebih baik jika mengenakan sepatu meskipun pertunjukan tersebut bersifat bebas. Lalu suara pemain kurang jelas dalam adegan bidadari-bidadari turun ke bumi. Untuk selanjutnya yaitu pementasan monolog balada sumarah. Monolog balada sumarah yang dimainkan oleh anggota Gema inilah yang akan mewakili kampus Universitas mengikuti lomba Nasional. Penulis naskah ini menjelaskan mengenai sedikit cerita dan meminta doa agar lolos dalam lomba Nasional tersebut. Awal dalam pementasan memang tidak mengerti apa yang penonton akan lihat nantinya,karena didalam panggung hanya berisikan sebuah kotak besar yang di sinari lampu yang sangat bagus. Ternyata dalam sebuah kotak tersebut berisikan sebuah wanita berbaju putih dan berkerudung yang menjadi peran sebagai Sumarah. Monolog Balada sumarah ini menceritakan mengenai dendam seorang wanita terhadap orang-orang yang telah mendiskriminasinya dan dia merasakan dendam akibat ulah ayahnya masa lalu. Ia merasakan dendam dan tidak terima akan hal yang dilakukan ayahnya itu sehingga membuat dia yang selalu dibayangi rasa bersalah meskipun dia tidak mengerti letak kesalahannya. Penonton sangat dikagumkan dengan pemeran Sumarah yang mampu menjadi beberapa karakter dalam sebuah pertunjukan. Memang luar biasa cerita tersebut membuat penonton penasaran akan hal selanjutnya yang diperankan oleh Sumarah. Pemain sangat menjiwai peran tersebut sehingga tidak menampilkan kesan membosankan seperti apa yang telah diungkapkan dalam tulisan Indah “membuat segalanya menjadi benar-benar terjadi,tidak membosankan bahkan sangat menarik minat penonton.” Monolog balada sumarah memang pantas dan cocok untuk maju ke tingkat Nasional dan mewakili Universitas PGRI Semarang. Cerita yang disampaikan sudah jelas dan dapat ditangkap oleh penonton yang melihatnya. Penonton bahkan bisa merasakan cerita tersebut disampaikan dan sedikit terharu melihat adegan tersebut. Semoga merekalah yang menjadi juara di tingkat Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar