Selasa, 02 Oktober 2018

Resensi kumpulan puisi "Jejak Tubuh"


Nama penulis              : Tegsa Teguh Satriyo
Tahun Terbit                : 2018
Judul                           : Jejak Tubuh
Kota Terbit                  : Yogyakarta
Penerbit                       : Garudhawaca
Jumlah Halaman          : 126 halaman



Sinopsis                       :
Tegsa Teguh Satriyo merupakan penulis dari kumpulan cerpen yang berjudul Jejak Tubuh. Beliau adalah seorang guru di SMA Ksatrian 2 lulusan sarjana dari Universitas PGRI Semarang. Hobbynya yang suka menulis tersebut memunculkan dan menciptakan suatu hasil karya yang bermanfaat yakni sebuah buku yang berisikan kurang lebih 117 puisi yang dimuat di dalam buku tersebut.
Bagi beliau menulis merupakan cara untuk melukis kegelisahan atau sekadar menuruti kata hati yang terus berlari. Beliau senang menulis puisi sejak SMP dari tulisan kecil-kecil hingga menjadi sebuah karya yang luar biasa. Terinspirasi dari karya Sutardji Calzoum Bachri ia menyukai puisi-puisi. Dalam karya yang dimuat berbagai tema dapat menjadikan banyak puisi seperti tema romantisme, religius, sosial budaya dan lain sebagainya.
Mulanya semasa SMA beliau suka dengan teater sehingga masuk ke dalam sebuah grup teater. Disana beliau banyak menyalurkan ide-ide dan bakat yang ia miliki. Tidak hanya teater belia menyukai seni dan sastra lainnya sehingga ia dapat menciptakan suatu karyanya seperti puisi, cerpen dan menyutradai suatu teater. Bagi beliau sastra merupakan wadah baginya untuk menambah ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.
Ketika SMA beliau diberi pesan oleh gurunya agar dapat melanjutkan masuk teater sebagai ajang pemanfaatan ide-ide yang ia miliki. Akhirnya setelah masuk ke perguruan tinggi beliau masuk ke dalam teater gema yang baginya menjadi rumah untuk menyuguhi segala ilmu yang bermanfaat.
Hasil karya yang diciptakan kerap sekali menjadi bahan ledekan dosen yang mengajarinya. Namun hal itu membuat beliau tertantang untuk menciptakan suatu hasil karya yang bermanfaat. Sehingga inilah beliau menulis kumpulan-kumpulan puisi agar tulisannya dapat bermanfaat bagi siapapun.
Kumpulan puisi yang diciptakan ini merupakan puisi-puisi yang menggunakan diksi-diksi tak lazim yang membuat karakter kepenulisan beliau menjadi kreatif. Banyak bahasa-bahasa yang aneh dan tidak sering didengar masyarakat. Mulai dari judulnya yang menarik tersebut membuat pembaca penasaran dengan isi dari puisi tersebut.
Banyak judul-judul puisi yang menarik ia tulis namun asing didengar oleh masyarakat seperti Kroda, Lobha, Moha, Matsarya dan lain sebagainya. Menarik dan membuat pembaca penasaran dengan isi puisinya. Banyak puisi di dalamnya yang mengandung maksud dan tujuan yang bermakna untuk pembaca. Namun makna isi dari puisi tersebut tidak langsung disampaikan dalam puisinya. Pemilihan diksi yang baik membuat penulis dapat menyampaikan pesan yang terkandung di dalam puisinya.
Beliau sempat berpesan agar pembaca dapat membiasakan menulis meskipun hanya berbentuk catatan-catatan kecil setiap harinya. Baik itu diary ataupun quotes sehingga nantinya akan terbiasa menulis dan dapat menciptakan suatu karya yang bermanfaat.
Ketika beliau mengadakan acara perbincangan bukunya tersebut dengan sastrawan-satrawan lainnya kala itu. Pembicara yang dihadirkan merupakan satrawan yang kritis akan dunia sastra. Sastrawan hebat yang membicarakan suatu karyanya di depan umum. Belaiu sangat menanggapi dengan bijak perbincangan-perbincangan yang dilakukan bersama dengan menghadirkan mahasiswa ataupun penyuka sastra lainnya.
Hal-hal yang disampaikan oleh sastrawan tersebut banyak menceritakan tentang pengalamn mereka mengenal si penulis dan membahas mengenai perbincangan tentang isi dari puisi-puisi tersebut. Mulai dari sampul, isi puisi, judul puisi, pemilihan diksi, bentuk layout atau tata letak dan pengalaman-pengalaman yang beliau peroleh dibaghas diperbincangan tersebut.
Bagi pembaca bahasa atau diksi yang ada dalam puisi tersebut mudah dipahami maksudnya namun tidak banyak orang yang mengerti arti dari judul-judul yang tak lazim tersebut. Sehingga pembaca yang tidak mengetahui hal tersebut merasa kebingungan dengan artinya namun itulah yang membuat pembaca penasaran untuk dibaca karena ketidaktahuan pembaca mengenai artinya.
Mengenai perbincangan dengan dilakukan suatu acara, seorang audience bertanya mengenai aturan-aturan penulisan yang dilakukan si penulis tidak sesuai dengan kaidahnya. Beliau menjawab karena ini adalah puisi maka beliau tidak terlalu berpedoman dengan aturan-aturan penulisan bahasa Indonesia. Jika ia menulis suatu cerpen ataupun tulisan formal pastilah akan sesuai dengan aturan yang ada beliau menjawab dengan bijaknya.
Maka dari tulisan-tulisan puisi beliau banyak sekali ditemukan ketidak sesuaian tulisan dengan ejaan atau aturan. Namun bagi pembaca yang sasaran baca usia remaja hal tersebut tidak dijadikan masalah untuk seseorang menulis yang terpenting tulisan sekecil apapun jika ditekuni akan menciptakan suatu karya yang bermanfaat. Tulisan juga disesuaikan dengan sasaran baca yang akan dituju. Dan nantinya dapat menumbuhkembangkan ide-ide yang penulis lakukan untuk menambah ilmu dan pengalamannya selama ini agar menjadi penulis yang aktif, kreatif, cerdas dan inovatif.

Resensi Novel "Nyanyian Hujan"


Nama penulis              : Sintia Astarina
Tahun Terbit                : 2013
Judul                            : Nyanyian Hujan
Kota Terbit                  : Jakarta
Penerbit                       : PT Grasindo
Jumlah Halaman         : 205 halaman



.

Sinopsis                       :
Vesta gadis berambut panjang memiliki seorang kakak bernama Revin. Ketika mereka pulang bermain mengendarai sepeda mereka masing-masing, Vesta mengalami kecelakaan karena kondisi jalan dan penerangan yang kurang dan mengakibatkan Vesta kehilangan banyak darah. Revin yang panik dengan sigap memapah Vesta pulang dan di rumah mereka tidak ada orang tua dikarenakan sedang ada pekerjaan di luar hanya ada om Dave dan istrinya. Mereka merasa panik dan membawa Vesta ke rumah sakit. Namun pihak rumah sakit tidak memiliki stok darah AB dan membuat keluarga Vesta kecewa namun tiba-tiba seorang suster memberi tahu bahwa ada sisa stok darah AB satu kantong.
Lalu Vesta dan Revin menjadi yatim piatu karena orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat dan tidak ada satu orang pun yang selamat dari kecelakaan tersebut. Vesta merasa tidak percaya bahwa ditinggal orang tuanya dia sangat terpukul namun tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya. Vesta tinggal bersama kakak, om dan tantenya serta Bi Sum pengasuhnya sejak kecil yang selalu menemani Vesta ketika ia merasa kesepian karena ditinggal Revin ke Australia untuk bekerja. Bagi Vesta kakaknya itu seorang yang perhatian, yang saying dengannya dan mampu menjaga Vesta hingga dewasa. Pada Revin pula, ia selalu mencurahkan segala isi hatinya. Semenjak ditinggal Vesta merasa galau dan sering mencurahkan isi hatinya pada hujan.
Hujanlah yang menjadi teman ketika ia merasa hatinya sedang mengalami kegundahan. Hujan yang dianggap mampu menenangkan jiwanya sehingga membuat dirinya menjadi tabah, kuat dalam menjalani kehidupannya saat ini.bagi Vesta hujan mampu mendengarkan keluh kesahnya melalui gemericik air yang turun.
Sementara itu, Revin kakaknya mengutus seorang temannya bernama Kenneth untuk menjaga Vesta selama ia meninggalkannya ke Australia. Kenneth dianggap sebagai cowok yang sombong, jutek, cuek dan berbeda dengan kakaknya yang selalu peduli dan perhatian dengannya. Kenneth menganggap Vesta adalah gadis yang manja dan tidak mau mandiri sehingga kerap sekali mereka bertengkar karena perbedaan pendapat yang bertolak belakang dengan dirinya.
Waktu berlalu Vesta menemukan teman barunya di kampus. Seorang lelaki yang mampu membuat hidup Vesta kini berwarna. Dio seorang mahasiswa jurusan DKV satu kampus dengannya kini menjadi seorang lelaki yang mampu membuatnya tersenyum setiap saat. Mereka memiliki kesamaan yakni sama-sama suka seni, musik, dan pastinya hujan. Dio memjadi seorang penyemangat hidupnya jika ia sedang merasa bĂȘte dengan Kenneth. Lama kelamaan akhirnya mereka berpacaran.
Kenneth mengetahui hal itu dia tidak menyukai jika Vesta berpacaran dengan Dio. Maka Kenneth sering melarang Vesta dan kebanyakan mengekang apapun yang dilakukan Vesta. Kemungkinan ia cemburu melihat kedekatan Vesta dengan Dio. Kenneth sering merasa khawatir, cemas dengannya karena ia tidak ingin Vesta terjadi apa-apa.
Tiba-tiba kondisi tubuh Vesta menurun. Kenneth terlihat cemas dengan keadaanya. Paginya Vesta memeriksakan kondisi tubuhnya ke rumah sakit dan menemui dokter yang menangani keluarganya tersebut dan  tenyata hasil labnya Vesta terkena HIV.  
            Akhirnya Kenneth mengetahui perihal penyakit Vesta yang disembunyikan selama ini. Tak selang lama Vesta dan Dio bercerita mengenai masalah penyakitnya. Mereka sama-sama terserang HIV.  Vesta sempat mengiRa bahwa ia terkena HIV karena bekas jarum yang digunakan untuk tato mereka tidak steril namun itu hanya kesalah pahaman saja. Selang beberapa lama Revin juga mengetahui hal tersebut dan ia tidak percaya bahwa adiknya terserang penyakit tersebut.
  Kenneth tetap menjaga Vesta meskipun sembari bekerja ia sempatkan untuk tetap mengetahui kondisi Vesta. Sesekali ia mampir untuk mengecek kondisi Vesta agar tidak terjadi hal-hal yang menimpa Vesta. Bi Sum pun juga masih tetap pengertian layaknya orang tua yang menjaga anaknya.
Akhirnya Kenneth mengutarakan isi hatinya kepada Vesta bahwa ia nyaman berada di dekatnya meskipun hanya menjaga dari kejauhan. Vesta mengetahui hal tersebut dan mencoba mengerti tentang hati Kenneth.
Kondisi tubuh Dio semakin melemah, ia dirawat di rumah sakit dan belum membaik kondisinya. Orang tua Dio yang sibuk bekerja di Singapura akhirnya pulang menemui Dio yang terbaring lemah kala itu. Mereka tidak dapat beebuat apa-apa hanya menyesali jika telah meninggalkan Dio selama ini. Sempat Dio sadar dan memanggil-manggil nama Vesta dia berharap dalam kondisi seperti ini saja agar Vesta tetap menemaninya namun itu semua hanya mimpi dan harapan Dio. Setelah sadar dan memanggil orang tuanya seketika itu Dio memalingkan wajahnya dan tubuhnya membeku tak lagi menunjukkan pergerakan sama sekali. Ibunya menangis tak percaya ketika alat-alat yang menempel di tubuh Dio berhenti begitu saja. Dio meninggalkan dunia dengan meninggalkan serpihan-serpihan kasih yang berkelana di antara desiran hujan yang mengantarnya menuju pintu surga


.

Minggu, 23 September 2018

AUTOBIOGRAFI

Seorang gadis kecil berambut pendek dulunya dan lama kelamaan menjadi seorang remaja berambut panjang,hitam dan dikuncir kuda setiap harinya. Sedikit tomboy saat SMP dan kembali berambut pendek saat SMK. Kini sudah menjadi seorang wanita dewasa yang sedang menjalani proses kehidupannya. Nama saya Fitria Ningrum,nama panggilan biasanya Fitri jika di rumah dan Ningrum untuk di sekolah dan teman main. Saya lahir di Semarang 20 Februari 1996 hari selasa pukul 00.15 kata ibu. Tepatnya saat malam takbir idul fitri 22 tahun yang lalu. Jadi nama saya diambil dari kata idul fitri,kata ibu yang memberi nama itu kakek. Saya terlahir dari keluarga sederhana. Saya anak kedua dari dua bersaudara,ayah bernama Turmudi dan Ibu Muryati. Ayah saya seorang buruh dan ibu seorang pedagang di kantin SD.. Kakak laki-laki bernama Prayogo Wahyu Murdiyanto. Kakak alhamdulillah sudah menikah dan memiliki seorang anak. istrinya bernama Wirawati dan anaknya bernama Rayhan Eka Zulvan Prawira. Saat ini saya tinggal di Karanggeneng RT 01/RW01,Sumurejo,Gunungpati,Semarang bersama kedua orangtua saya. Saat aku hendak mulai sekolah diasuh oleh Budhe yang dianggap seperti ibu sendiri. Setiap pagi hendak sekolah aku selalu dikuncir rambut oleh Budhe. Dia ini sangatlah galak,cuek,senang sekali membersihkan rumah dan senang sekali menyanyi. Setelah beranjak besar dan dewasa Budhe merantau ke negeri orang menjadi TKW di Malaysia hingga 3 tahun yang lalu terakhir dia kembali ketika kakek belum meninggal. Pada saat umur 4 tahun saya memulai karir pendidikan di TK Pertiwi 1,yang berada tak jauh dari rumah. Tahun 2000/2001 melanjutkan ke jenjang SD selama 6 tahun dan lulus tahun 2007/2008 dan mendapatkan ijazah. di SD N 1 Sumurejo masih dilingkungan rumah dan yang menjadi kesan yaitu memiliki teman-teman yang baik. Tahun 2008 saya melanjutkan ke jenjang SMP di SMP N 24 Semarang selama 3 tahun dan yang menjadi guru favorit yaitu guru matematika yang bernama Bapak Saliman, Beliau adalah seorang guru yang santai,mudah dipahami pembelajarannya,dan humoris orangnya. Selama 3 tahun memiliki teman-teman kelas yang sangat akrab. Setelah 3 tahun tepatnya pada 2010/2011 menyelesaikan pendidikan di SMP dan mendapatkan ijazah SMP. Kemudian di lanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu SMA/SMK di SMK N 11 Semarang jl.Cemara Raya Banyumanik Semarang. Disitulah saya mengenakan seragam putih abu-abu dan menuntut ilmu selama 3 tahun. Di SMK N 11 saya mengambil jurusan Persiapan Grafika, bidangnya tentang persiapan sebelum proses pencetakan. Selama bersekolah di SMK N 11 memiliki guru favorit yang bernama Ibu Canserina Juliawardhani beliau adalah orang yang memiliki sifat keibuan, penyayang,tegas,dan disiplin. Meskipun banyak muridnya yang takut dengan beliau karna sifat tegasnya. Tiga tahun berjalan 2013/2014 menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA/SMK dan mendapatkan ijazah serta nilai yang cukup baik. Prestasi akademik yang diraih di jenjang pendidikan mengalami pasang surut. Di saat Taman Kanak-Kanak saya sering mendapat nilai yang cukup baik,akan tetapi pada Taman Kanak-Kanak belum ada penilaian berdasarkan peringkat. Dalam catatan rapor Taman Kanak-Kanakku tertulis bahwa aku itu masih merasa malu dengan seseorang. Sifat pemaluku itu yang membuat guru sangat memperhatikan aku. Guru-guru di Taman Kanak-Kanak dulu sangatlah baik sehingga jasa-jasa beliau tak pernah hilang dalam ingatan,dan selalu teringat kebaikan,kesabaran,ketelatenan beliau dalam mengajar. Di Sekolah Dasar prestasi akademik yang diraih sangatlah cukup baik. Setiap pergantian semester mendapat peringkat 5 besar dari beberapa siswa di sekolah. Hingga akhirnya orang tua menjanjikan sesuatu sebagai apresiasi peringkat dan sebagai penyemangat belajar di sekolah. Selama berprestasi, diberi hadiah oleh orang tua seperti sepeda,tas dan sepatu sekolah yang diinginkan. Lalu pada jenjang SMP,nilai saya juga cukuplah baik,walaupun belum yang terbaik setiap semesternya. Saya selalu mendapatkan peringkat 10 besar di kelas. Hingga jenjang SMK juga selalu kejar-kejaran peringkat dengan teman 3 besar. Pernah dulu saat penerimaan rapor dibohongi oleh wali kelas tidak mendapat peringkat. Dan hal itu dibicarakan kepada ibu sehingga saya kecewa dengan hal itu,tapi ternyata setelah dibuka rapornya saya dibohongi oleh wali kelas yang menjadi guru favorit selama ini. Bicara tentang hobby saya bingung juga apa maksud dari itu. Setiap harinya hanya membantu orang tua berjualan. Sepulang berjualan siang hari biasanya tidur. Malamnya belajar dan begitulah setiap harinya. Jadi jika ditanya hobbynya apa saya sendiri juga kurang paham. Tapi hal yang disenangi yakni mendengarkan musik. Tahun 2014 saya sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya namun keterbatasan ekonomi keluarga ,saya urungkan niat pada tahun itu untuk kuliah. Saya putuskan tahun itu untuk bekerja sebagai batu loncatan saat itu dan gaji selama bekerja disisihkan untuk menabung biaya kuliah tahun depan. Awal bekerja saya merasa hal itu sangatlah berat dijalani hingga setiap malam pulang kerja selalu mengeluh pada ibu tentang pekerjaan. Selama 2 bulan bekerja di suatu pabrik akhirnya saya mengundurkan diri dari pabrik tersebut. Lalu bekerja kembali dengan bantuan teman di salah satu tempat oleh-oleh. Selama 6 bulan bekerja ditempat itu. akhirnya ada pendaftaran kuliah dan memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus mencari perguruan tinggi. Alhamdulillah tahun 2015 bisa kuliah meskipun awalnya mendaftar di Perguruan Tinggi Negeri dengan mengikuti beberapa tahapan pendaftaran dari SBMPTN hingga SPMU tetapi tidak lolos dan akhirnya mendaftar ke Universitas PGRI Semarang dengan Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, karena saya rasa bisa ditempuh dan ingin menjadi guru bahasa Indonesia yang berpotensi dan berkarakter yang baik bagi diri sendiri,bangsa dan berguna bagi masyarakat terutama orang tua.. Semoga ini awal keberhasilan untuk mencapai cita-cita saya menjadi seorang guru.Amin Keinginan saya saat ini yaitu bisa melaksanakan kuliah dengan baik, menyelesaikan segala tugas-tugas sehingga kuliah selalu lancar tanpa sedikitpun halangan. Dan selanjutnya lulus dengan nilai Ipk yang baik dan memuaskan. Dan menjadi orang sukses. Sehingga dapat membanggakan orang tua nantinya. Saya ingin membahagiakan orang tua dengan menaikhajikan orang tua nantinya. Amin Sedikit motivasi yang saya peroleh dari motivator-motivator lain bahwa seseorang akan menggapai kesuksesan dimulai dari niat,usaha serta doa dalam menjalankannya. Serta selalu tenggang rasa dan menghargai orang lain karena hdup tak lepas dari bantuan orang lain. Semoga cita-cita tercapai dengan lancar. Amin

Rabu, 28 Desember 2016

tugas lain

tugas lain yang tidak di post antara lain : 1. membuat surat untuk guru TK/SD 2. MEnulis esai tentang diri sendiri dari kecil-sekarang. 3. menanggapi esai atau puisi dari bapak Setia naka

mengomentari esai teman

Nama : Fitria Ningrum Kelas : 3E PBSI Npm : 15410206 Kurangnya Penyajian Pentas Esai Siti Hadiyanti Indah Lestari dalam tulisannya tetntan pementasan drama yang dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2016 di GP lantai 7 Universitas PGRI Semarang ini cukup menarik. Sekelompok komunitas mahasiswa dalam suatu teater dapat mengemas dua pertunjukan menjadi sangat menarik daya pikat penontonnya. Teater Gema nama sekelompok tersebut yang kini dapat mewakili dari kampus Universitas PGRI Semarang untuk mengikuti lomba drama tingkat Nasional. Gema mengemas dua pertunjukan dengan baik karena telah memiliki banyak pengalaman-pengalaman yang banyak. Kesalahan memang selalu ada dalam suatu kegiatan namun hal tersebut menjadi suatu hal landasan mereka untuk tetap menjadi lebih baik. Sebenarnya hal-hal yang kurang dalam pementasan itu tetap ada namun pertunjukan yang disuguhkan membuat penonton tidak mengerti di mana letak kesalahan tersebut. Mulai dari jam pementasan molor, terjadinya hal tersebut membuat penonton sedikit kecewa karena sudah menunggu lama dan berdesakan pula pementasan tidak segera dilaksankan dan hal itu hampir membuat penonton kecewa. Dalam tulisan Indah memang sudah ada kesalahan-kesalahan atau kekurangan dalam pementasan tersebut,namun kurang lengkap dalam pembahasannya. Sepenggal kalimat dalam tulisan Indah kurang dipahami maksudnya untuk dibaca. “cerita asmara jaka tarub bermulai dari mimpi yang di dapatkan jaka saat muda dan sangat dipercayainya. “ hal itu kurang penjelasan apa yang sebenarnya tentang sangat dipercayainya. Mimpi atau cerita asmara Jaka Tarub? Peran apa? Tulisan indah tidak dijelaskan bahwa peran apa yang diperankan oleh Tomo dan Topo dalam cerita. Ada hal negative dan positifnya yang dapat ditangkap oleh penonton. Hal negatifnya yaitu peran Tomo dan Toko tidak terlalu jelas dalam cerita,dan hal positifnya dapat memberikan serta menutupi ketika adegan Jaka tarub dan Nawangwulan menikah lalu dikarunia seorang anak yang dikandung Nawangwulan. Jika tidak diselingi munculnya tokoh Tomo dan Topo sepertinya cerita tersebut kurang masuk akal. “suatu hari jaka merasa aneh saat lumbung padi miliknya susah mendapatkan air,……”tulisan itu sedikit tidak bisa dipahami bahwasanya lumbung padi adalah tempat menyimpan padi tetapi Indah menjelaskan lumbung padi tidak mendapatkan air. Kemungkinan yang dimaksud susah mendapatkan air adalah sawah milik Jaka Tarub. Memang benar apa yang dikatakan Indah semua peran yang ditunjukkan dalam pementasan drama tersebut sangat menjiwai karakter masing-masing perannya. Background dan backsound menjadi tambahan kesempurnaan pentas tersebut. Lighting atau pencahayaannya memang menarik dan sesuai dengan ceritanya. Untuk adegan salah satu bidadari yang jatuh itu sepertinya memang tidak disengaja dan tidak terlalu fatal karena ada respon dari pemain lainnya sehingga itu terlihat seperti settingan adegan. Tambahan untuk kekurangan pementasan yaitu dalam segi luar cerita, terjadinya molor jam tadi, dua pembawa acara kurang komunikatif terhadap penonton jadi kesannya seperti garing dalam pembawaanya. Salah satu pemain juga mengenakan sandal(sandal gunung), memang tampilan mereka casual tetapi dalam sebuah acara peran pembawa acara juga termasuk dalam acara tersebut. Sebaiknya jika membawakan suatu acara alangkah lebih baik jika mengenakan sepatu meskipun pertunjukan tersebut bersifat bebas. Lalu suara pemain kurang jelas dalam adegan bidadari-bidadari turun ke bumi. Untuk selanjutnya yaitu pementasan monolog balada sumarah. Monolog balada sumarah yang dimainkan oleh anggota Gema inilah yang akan mewakili kampus Universitas mengikuti lomba Nasional. Penulis naskah ini menjelaskan mengenai sedikit cerita dan meminta doa agar lolos dalam lomba Nasional tersebut. Awal dalam pementasan memang tidak mengerti apa yang penonton akan lihat nantinya,karena didalam panggung hanya berisikan sebuah kotak besar yang di sinari lampu yang sangat bagus. Ternyata dalam sebuah kotak tersebut berisikan sebuah wanita berbaju putih dan berkerudung yang menjadi peran sebagai Sumarah. Monolog Balada sumarah ini menceritakan mengenai dendam seorang wanita terhadap orang-orang yang telah mendiskriminasinya dan dia merasakan dendam akibat ulah ayahnya masa lalu. Ia merasakan dendam dan tidak terima akan hal yang dilakukan ayahnya itu sehingga membuat dia yang selalu dibayangi rasa bersalah meskipun dia tidak mengerti letak kesalahannya. Penonton sangat dikagumkan dengan pemeran Sumarah yang mampu menjadi beberapa karakter dalam sebuah pertunjukan. Memang luar biasa cerita tersebut membuat penonton penasaran akan hal selanjutnya yang diperankan oleh Sumarah. Pemain sangat menjiwai peran tersebut sehingga tidak menampilkan kesan membosankan seperti apa yang telah diungkapkan dalam tulisan Indah “membuat segalanya menjadi benar-benar terjadi,tidak membosankan bahkan sangat menarik minat penonton.” Monolog balada sumarah memang pantas dan cocok untuk maju ke tingkat Nasional dan mewakili Universitas PGRI Semarang. Cerita yang disampaikan sudah jelas dan dapat ditangkap oleh penonton yang melihatnya. Penonton bahkan bisa merasakan cerita tersebut disampaikan dan sedikit terharu melihat adegan tersebut. Semoga merekalah yang menjadi juara di tingkat Nasional.

menanggapi opini teman

Mengenai tulisan yang berjudul “ Keadilan yang Mengendap” merupakan sebuah aspirasi, curahan hati,ataupun pengaduan terhadap pemerintah. Seharusnya bukan seperti itu peran pemerintah terhadap guru, pemerintah harus bertindak adil terhadap seluruh guru-guru yang telah memiliki sertifikasi. Pada dasarnya guru yang telah mencapai sertifikasi harus mendapatkan haknya terhadap apa yang telah dicapainya. Mereka juga memiliki keluarga yang perlu akan kepentingan setiap harinya. Guru yang telah memiliki sertifikasi saja masih merasakan ketidak adilan pemerintah,apalagi guru honorer yang belum mendapatkan tunjangan. Mereka berusaha mengejar kuota 24jam sesuai struktur kurikulum 2013 agar mendapatkan tunjangannya. Tetapi,kini hal tersebut malah menjadi masalah pemerintah akibat dari kebijakan pendidikan. Guru sertifikasi yang menggeluti bidang akademiknya saja masih belum mencukupi kuota mengajarnya maka mereka beralih ajar ke bidang lainnya demi mecapai kuota tersebut. Pemerintah seharusnya dapat mengatasi permasalahan mengenai pemerataan tunjangan penghasilan guru. Jika pemerintah mengupayakan agar tunjangan tersebut tidak mengendap maka pemerintah juga harus mengawasi kinerja guru agar apa yang telah diupayakan tidak mengecewakan. Sebaliknya, guru juga harus meningkatkan kualitas kinerjanya agar tidak terjadi masalah-masalah pengendapan dana tunjangan penghasilan.

membalas surat pak naka

Selamat malam juga bapak dosen penulisan media massa yang berbahagia yang tak henti-hentinya memberi wejangan-wejangan indah di setiap pertemuan kita. Karena,setiap pertemuan kita meninggalkan sebuah arti untuk kehidupan kelak kami nantinya. Bapak kabar kami sehat selalu, bagaimana dengan keadaan keluarga bapak? Tak henti-hentinya doa dan ucapan syukur kami panjatkan untuk orang-orang terkasih yang selalu ada dalam lindungan-Nya. Kami tidak merasa terkejut akan hal mendadak yang bapak sampaikan kepada kami, hanya saja sedikit bingung untuk membalas surat bapak ini. Apa yang akan dibicarakan dan apa yang akan diungkapkan untuk Bapak. Ada hal lain yang mungkin bapak rasa janggal dalam kelas kami. Kemungkinan bapak merasakan kesunyian dalam setiap pertemuan dan mungkin hanya ada beberapa penghuni saja yang mampu merespon pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada kami. Kelas kami terhitung banyak yang tidak berbicara mungkin karena malas,capek,tidak ada topic yang dibicarakan,ngantuk ataupun hal lain yang menyebabkan hal itu terjadi. Saya saja merasakan hal itu ketika saya mengajak rekan–rekan di kelas saya untuk diskusi terkait hal hal yang bersangkutan dengan kelas. Saya juga bingung mengapa dari sekian banyak orang hanya beberapa saja yang berbicara padahal kita sama-sama berjuang untuk kelas. Bapak dosen yang luar biasa akan semua karyanya, saya mengakui jika dalam kuliah bapak saya kurang aktif berbicara karena saya ternyata masih bingung untuk mencerna pertanyaan-pertanyaan yang bapak sering berikan. Mungkin bisa menjawab namun agak sedikit lama untuk memahami pertanyaan tersebut. Saya merasakan hal itu jadi saya cenderung diam dan memikirkan apa maksud dari pertanyaan-pertanyaan yang Bapak berikan. Bapak, terkait dalam perkuliahan saya memang kurang mengerti maksud yang akan dipelajari dalam penulisan media ini, yang saya tahu hanya saya ditugaskan untuk merangkai kata-kata indah sebegitu banyaknya kelak jika kami menulis skripsi kami tidak terlalu kaget akan hal kalimat yang sangat luar biasa banyaknya itu. Serta untuk menggali potensi kami untuk selalu berkarya.benar bukan Bapak? Bapak, saya juga mendengar dari beberapa orang mengenai hal yang sama seperti yang saya alami ini. Lalu bagaimana bapak agar kami dapat berani mengutarakan hal-hal yang ingin disampaikan jika kami belum dapat mencerna pertanyaan bapak dengan baik. Rasanya ingin berbicara namun hal yang akan dibicarakan itu saja kami tidak mampu untuk menjelaskan. Terkait dengan hal malas membaca itu memang penyakit yang susah diniati. Andaikan niat dan perjuangan itu seimbang hal itu akan terasa gampang dijalani. Memang bapak,saya sedikit malas untuk membaca, bukan malas sebenarnya terkadang waktu saya bapak yang tidak terprioritas. Keseharian saya bukan hanya kuliah bapak, saya membantu ibu saya berjualan di Kantin SD lumayan dekat dengan rumah. Terkadang saya bingung membagi waktu untuk belajar, setiap paginya saja ditugasi ibu saya untuk belanja bahan-bahan yang akan di masak untuk jualan. Lalu selepas belanja mandi berangkat jualan, sela-sela jualan sebelum pada istirahat biasanya saya gunakan untuk memberesi pekerjaan rumah lalu berangkat kuliah. Selepas itu sore sudah lelah dalam perjalanan karena saya laju dan jalanan macet sana sini terkadang membuat saya sering ketiduran. Begitu terus setiap harinya, kadang hanya membaca beberapa berita saja di internet kompas.com. intinya saja sebenarnya tidak berterus-terusan malas untuk membaca hanya saja saya sempatkan setiap harinya untuk membaca berita agar tidak tertinggal dengan berita-berita lain. Maafkan saya pak jika membaca saya nomer duakan. Bapak,maafkan saya dengan segala kekurangannya. Untuk pertanyaan mengenai motivasi saya hidup ya pasti kedua orang tua saya bapak. Saya ingin membahagiakan mereka. Lalu untuk apa saya kuliah, saya bercita-cita menjadi guru karena pekerjaan itu adalah pekerjaan mulia menurut saya. Untuk yang masih bicara di dalam kelas saya juga tidak mengerti solusi apa yang harus di berikan kepada kelas saya. Saya juga sudah lelah pak mereka masih susah untuk diajak berdiskusi. Kalau tidak berbicara sendiri ya pastilah bermain gadget. Sama saja kita berbicara namun tidak ada yang mendengarkan. Maafkan kelas kami yang nakal ini ya pak.. Bapak perlahan saya akan berusaha menggali potensi yang ada dalam diri saya namun saya berharap bapak tetap memberikan motivasi serta wejangan-wejangan untuk kami. Agar kelak kami dapat sukses seperti bapak dengan sejuta karyanya yang luar biasa. Maaf Bapak jika saya membalas surat ini terlampau sedikit menyinggung perasaan bapak saya harap bapak memaafkannya. Saya juga sudah membalas sepenuh hati surat bapak ini kelak bapak juga dapat memberikan motivasi kepada kelas kami aagar tetap kompak dan solid. Serta semoga rekan-rekan kelas saya bahkan saya sendiri lebih berani utuk mengutarakan segala yang ada dalam pemikiran serta dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan bapak kepada kami. Sekali lagi saya memohon maaf kepada bapak jika ini menyinggung perasaan bapak. Terima kasih. (Fitria Ningrum- 3E PBSI)