Selasa, 02 Oktober 2018

Resensi Novel "Nyanyian Hujan"


Nama penulis              : Sintia Astarina
Tahun Terbit                : 2013
Judul                            : Nyanyian Hujan
Kota Terbit                  : Jakarta
Penerbit                       : PT Grasindo
Jumlah Halaman         : 205 halaman



.

Sinopsis                       :
Vesta gadis berambut panjang memiliki seorang kakak bernama Revin. Ketika mereka pulang bermain mengendarai sepeda mereka masing-masing, Vesta mengalami kecelakaan karena kondisi jalan dan penerangan yang kurang dan mengakibatkan Vesta kehilangan banyak darah. Revin yang panik dengan sigap memapah Vesta pulang dan di rumah mereka tidak ada orang tua dikarenakan sedang ada pekerjaan di luar hanya ada om Dave dan istrinya. Mereka merasa panik dan membawa Vesta ke rumah sakit. Namun pihak rumah sakit tidak memiliki stok darah AB dan membuat keluarga Vesta kecewa namun tiba-tiba seorang suster memberi tahu bahwa ada sisa stok darah AB satu kantong.
Lalu Vesta dan Revin menjadi yatim piatu karena orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat dan tidak ada satu orang pun yang selamat dari kecelakaan tersebut. Vesta merasa tidak percaya bahwa ditinggal orang tuanya dia sangat terpukul namun tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya. Vesta tinggal bersama kakak, om dan tantenya serta Bi Sum pengasuhnya sejak kecil yang selalu menemani Vesta ketika ia merasa kesepian karena ditinggal Revin ke Australia untuk bekerja. Bagi Vesta kakaknya itu seorang yang perhatian, yang saying dengannya dan mampu menjaga Vesta hingga dewasa. Pada Revin pula, ia selalu mencurahkan segala isi hatinya. Semenjak ditinggal Vesta merasa galau dan sering mencurahkan isi hatinya pada hujan.
Hujanlah yang menjadi teman ketika ia merasa hatinya sedang mengalami kegundahan. Hujan yang dianggap mampu menenangkan jiwanya sehingga membuat dirinya menjadi tabah, kuat dalam menjalani kehidupannya saat ini.bagi Vesta hujan mampu mendengarkan keluh kesahnya melalui gemericik air yang turun.
Sementara itu, Revin kakaknya mengutus seorang temannya bernama Kenneth untuk menjaga Vesta selama ia meninggalkannya ke Australia. Kenneth dianggap sebagai cowok yang sombong, jutek, cuek dan berbeda dengan kakaknya yang selalu peduli dan perhatian dengannya. Kenneth menganggap Vesta adalah gadis yang manja dan tidak mau mandiri sehingga kerap sekali mereka bertengkar karena perbedaan pendapat yang bertolak belakang dengan dirinya.
Waktu berlalu Vesta menemukan teman barunya di kampus. Seorang lelaki yang mampu membuat hidup Vesta kini berwarna. Dio seorang mahasiswa jurusan DKV satu kampus dengannya kini menjadi seorang lelaki yang mampu membuatnya tersenyum setiap saat. Mereka memiliki kesamaan yakni sama-sama suka seni, musik, dan pastinya hujan. Dio memjadi seorang penyemangat hidupnya jika ia sedang merasa bête dengan Kenneth. Lama kelamaan akhirnya mereka berpacaran.
Kenneth mengetahui hal itu dia tidak menyukai jika Vesta berpacaran dengan Dio. Maka Kenneth sering melarang Vesta dan kebanyakan mengekang apapun yang dilakukan Vesta. Kemungkinan ia cemburu melihat kedekatan Vesta dengan Dio. Kenneth sering merasa khawatir, cemas dengannya karena ia tidak ingin Vesta terjadi apa-apa.
Tiba-tiba kondisi tubuh Vesta menurun. Kenneth terlihat cemas dengan keadaanya. Paginya Vesta memeriksakan kondisi tubuhnya ke rumah sakit dan menemui dokter yang menangani keluarganya tersebut dan  tenyata hasil labnya Vesta terkena HIV.  
            Akhirnya Kenneth mengetahui perihal penyakit Vesta yang disembunyikan selama ini. Tak selang lama Vesta dan Dio bercerita mengenai masalah penyakitnya. Mereka sama-sama terserang HIV.  Vesta sempat mengiRa bahwa ia terkena HIV karena bekas jarum yang digunakan untuk tato mereka tidak steril namun itu hanya kesalah pahaman saja. Selang beberapa lama Revin juga mengetahui hal tersebut dan ia tidak percaya bahwa adiknya terserang penyakit tersebut.
  Kenneth tetap menjaga Vesta meskipun sembari bekerja ia sempatkan untuk tetap mengetahui kondisi Vesta. Sesekali ia mampir untuk mengecek kondisi Vesta agar tidak terjadi hal-hal yang menimpa Vesta. Bi Sum pun juga masih tetap pengertian layaknya orang tua yang menjaga anaknya.
Akhirnya Kenneth mengutarakan isi hatinya kepada Vesta bahwa ia nyaman berada di dekatnya meskipun hanya menjaga dari kejauhan. Vesta mengetahui hal tersebut dan mencoba mengerti tentang hati Kenneth.
Kondisi tubuh Dio semakin melemah, ia dirawat di rumah sakit dan belum membaik kondisinya. Orang tua Dio yang sibuk bekerja di Singapura akhirnya pulang menemui Dio yang terbaring lemah kala itu. Mereka tidak dapat beebuat apa-apa hanya menyesali jika telah meninggalkan Dio selama ini. Sempat Dio sadar dan memanggil-manggil nama Vesta dia berharap dalam kondisi seperti ini saja agar Vesta tetap menemaninya namun itu semua hanya mimpi dan harapan Dio. Setelah sadar dan memanggil orang tuanya seketika itu Dio memalingkan wajahnya dan tubuhnya membeku tak lagi menunjukkan pergerakan sama sekali. Ibunya menangis tak percaya ketika alat-alat yang menempel di tubuh Dio berhenti begitu saja. Dio meninggalkan dunia dengan meninggalkan serpihan-serpihan kasih yang berkelana di antara desiran hujan yang mengantarnya menuju pintu surga


.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar