Tahun Terbit :
2013
Judul :
Nyanyian Hujan
Kota Terbit :
Jakarta
Penerbit :
PT Grasindo
Jumlah Halaman : 205 halaman
.
Sinopsis :
Vesta
gadis berambut panjang memiliki seorang kakak bernama Revin. Ketika mereka
pulang bermain mengendarai sepeda mereka masing-masing, Vesta mengalami
kecelakaan karena kondisi jalan dan penerangan yang kurang dan mengakibatkan
Vesta kehilangan banyak darah. Revin yang panik dengan sigap memapah Vesta
pulang dan di rumah mereka tidak ada orang tua dikarenakan sedang ada pekerjaan
di luar hanya ada om Dave dan istrinya. Mereka merasa panik dan membawa Vesta
ke rumah sakit. Namun pihak rumah sakit tidak memiliki stok darah AB dan
membuat keluarga Vesta kecewa namun tiba-tiba seorang suster memberi tahu bahwa
ada sisa stok darah AB satu kantong.
Lalu
Vesta dan Revin menjadi yatim piatu karena orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat
dan tidak ada satu orang pun yang selamat dari kecelakaan tersebut. Vesta
merasa tidak percaya bahwa ditinggal orang tuanya dia sangat terpukul namun tidak
ingin berlarut-larut dalam kesedihannya. Vesta tinggal bersama kakak, om dan
tantenya serta Bi Sum pengasuhnya sejak kecil yang selalu menemani Vesta ketika
ia merasa kesepian karena ditinggal Revin ke Australia untuk bekerja. Bagi Vesta
kakaknya itu seorang yang perhatian, yang saying dengannya dan mampu menjaga
Vesta hingga dewasa. Pada Revin pula, ia selalu mencurahkan segala isi hatinya.
Semenjak ditinggal Vesta merasa galau dan sering mencurahkan isi hatinya pada
hujan.
Hujanlah
yang menjadi teman ketika ia merasa hatinya sedang mengalami kegundahan. Hujan yang
dianggap mampu menenangkan jiwanya sehingga membuat dirinya menjadi tabah, kuat
dalam menjalani kehidupannya saat ini.bagi Vesta hujan mampu mendengarkan keluh
kesahnya melalui gemericik air yang turun.
Sementara
itu, Revin kakaknya mengutus seorang temannya bernama Kenneth untuk menjaga
Vesta selama ia meninggalkannya ke Australia. Kenneth dianggap sebagai cowok
yang sombong, jutek, cuek dan berbeda dengan kakaknya yang selalu peduli dan
perhatian dengannya. Kenneth menganggap Vesta adalah gadis yang manja dan tidak
mau mandiri sehingga kerap sekali mereka bertengkar karena perbedaan pendapat
yang bertolak belakang dengan dirinya.
Waktu
berlalu Vesta menemukan teman barunya di kampus. Seorang lelaki yang mampu
membuat hidup Vesta kini berwarna. Dio seorang mahasiswa jurusan DKV satu
kampus dengannya kini menjadi seorang lelaki yang mampu membuatnya tersenyum
setiap saat. Mereka memiliki kesamaan yakni sama-sama suka seni, musik, dan
pastinya hujan. Dio memjadi seorang penyemangat hidupnya jika ia sedang merasa bête
dengan Kenneth. Lama kelamaan akhirnya mereka berpacaran.
Kenneth
mengetahui hal itu dia tidak menyukai jika Vesta berpacaran dengan Dio. Maka Kenneth
sering melarang Vesta dan kebanyakan mengekang apapun yang dilakukan Vesta. Kemungkinan
ia cemburu melihat kedekatan Vesta dengan Dio. Kenneth sering merasa khawatir,
cemas dengannya karena ia tidak ingin Vesta terjadi apa-apa.
Tiba-tiba
kondisi tubuh Vesta menurun. Kenneth terlihat cemas dengan keadaanya. Paginya Vesta
memeriksakan kondisi tubuhnya ke rumah sakit dan menemui dokter yang menangani
keluarganya tersebut dan tenyata hasil
labnya Vesta terkena HIV.
Akhirnya Kenneth mengetahui perihal
penyakit Vesta yang disembunyikan selama ini. Tak selang lama Vesta dan Dio
bercerita mengenai masalah penyakitnya. Mereka sama-sama terserang HIV. Vesta sempat mengiRa bahwa ia terkena HIV
karena bekas jarum yang digunakan untuk tato mereka tidak steril namun itu
hanya kesalah pahaman saja. Selang beberapa lama Revin juga mengetahui hal
tersebut dan ia tidak percaya bahwa adiknya terserang penyakit tersebut.
Kenneth
tetap menjaga Vesta meskipun sembari bekerja ia sempatkan untuk tetap
mengetahui kondisi Vesta. Sesekali ia mampir untuk mengecek kondisi Vesta agar
tidak terjadi hal-hal yang menimpa Vesta. Bi Sum pun juga masih tetap
pengertian layaknya orang tua yang menjaga anaknya.
Akhirnya
Kenneth mengutarakan isi hatinya kepada Vesta bahwa ia nyaman berada di
dekatnya meskipun hanya menjaga dari kejauhan. Vesta mengetahui hal tersebut
dan mencoba mengerti tentang hati Kenneth.
Kondisi
tubuh Dio semakin melemah, ia dirawat di rumah sakit dan belum membaik
kondisinya. Orang tua Dio yang sibuk bekerja di Singapura akhirnya pulang
menemui Dio yang terbaring lemah kala itu. Mereka tidak dapat beebuat apa-apa
hanya menyesali jika telah meninggalkan Dio selama ini. Sempat Dio sadar dan
memanggil-manggil nama Vesta dia berharap dalam kondisi seperti ini saja agar
Vesta tetap menemaninya namun itu semua hanya mimpi dan harapan Dio. Setelah sadar
dan memanggil orang tuanya seketika itu Dio memalingkan wajahnya dan tubuhnya
membeku tak lagi menunjukkan pergerakan sama sekali. Ibunya menangis tak
percaya ketika alat-alat yang menempel di tubuh Dio berhenti begitu saja. Dio
meninggalkan dunia dengan meninggalkan serpihan-serpihan kasih yang berkelana
di antara desiran hujan yang mengantarnya menuju pintu surga
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar