Tahun Terbit :
2018
Judul :
Jejak Tubuh
Kota Terbit :
Yogyakarta
Penerbit :
Garudhawaca
Jumlah Halaman : 126 halaman
Sinopsis :
Tegsa Teguh Satriyo
merupakan penulis dari kumpulan cerpen yang berjudul Jejak Tubuh. Beliau adalah seorang guru di SMA Ksatrian 2 lulusan
sarjana dari Universitas PGRI Semarang. Hobbynya yang suka menulis tersebut
memunculkan dan menciptakan suatu hasil karya yang bermanfaat yakni sebuah buku
yang berisikan kurang lebih 117 puisi yang dimuat di dalam buku tersebut.
Bagi beliau menulis
merupakan cara untuk melukis kegelisahan atau sekadar menuruti kata hati yang
terus berlari. Beliau senang menulis puisi sejak SMP dari tulisan kecil-kecil
hingga menjadi sebuah karya yang luar biasa. Terinspirasi dari karya Sutardji
Calzoum Bachri ia menyukai puisi-puisi. Dalam karya yang dimuat berbagai tema
dapat menjadikan banyak puisi seperti tema romantisme, religius, sosial budaya
dan lain sebagainya.
Mulanya semasa SMA beliau
suka dengan teater sehingga masuk ke dalam sebuah grup teater. Disana beliau
banyak menyalurkan ide-ide dan bakat yang ia miliki. Tidak hanya teater belia
menyukai seni dan sastra lainnya sehingga ia dapat menciptakan suatu karyanya
seperti puisi, cerpen dan menyutradai suatu teater. Bagi beliau sastra
merupakan wadah baginya untuk menambah ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.
Ketika SMA beliau
diberi pesan oleh gurunya agar dapat melanjutkan masuk teater sebagai ajang
pemanfaatan ide-ide yang ia miliki. Akhirnya setelah masuk ke perguruan tinggi
beliau masuk ke dalam teater gema yang baginya menjadi rumah untuk menyuguhi
segala ilmu yang bermanfaat.
Hasil karya yang
diciptakan kerap sekali menjadi bahan ledekan dosen yang mengajarinya. Namun hal
itu membuat beliau tertantang untuk menciptakan suatu hasil karya yang
bermanfaat. Sehingga inilah beliau menulis kumpulan-kumpulan puisi agar
tulisannya dapat bermanfaat bagi siapapun.
Kumpulan puisi yang
diciptakan ini merupakan puisi-puisi yang menggunakan diksi-diksi tak lazim
yang membuat karakter kepenulisan beliau menjadi kreatif. Banyak bahasa-bahasa
yang aneh dan tidak sering didengar masyarakat. Mulai dari judulnya yang
menarik tersebut membuat pembaca penasaran dengan isi dari puisi tersebut.
Banyak judul-judul
puisi yang menarik ia tulis namun asing didengar oleh masyarakat seperti Kroda,
Lobha, Moha, Matsarya dan lain sebagainya. Menarik dan membuat pembaca
penasaran dengan isi puisinya. Banyak puisi di dalamnya yang mengandung maksud
dan tujuan yang bermakna untuk pembaca. Namun makna isi dari puisi tersebut
tidak langsung disampaikan dalam puisinya. Pemilihan diksi yang baik membuat
penulis dapat menyampaikan pesan yang terkandung di dalam puisinya.
Beliau sempat berpesan
agar pembaca dapat membiasakan menulis meskipun hanya berbentuk catatan-catatan
kecil setiap harinya. Baik itu diary
ataupun quotes sehingga nantinya akan
terbiasa menulis dan dapat menciptakan suatu karya yang bermanfaat.
Ketika beliau
mengadakan acara perbincangan bukunya tersebut dengan sastrawan-satrawan
lainnya kala itu. Pembicara yang dihadirkan merupakan satrawan yang kritis akan
dunia sastra. Sastrawan hebat yang membicarakan suatu karyanya di depan umum. Belaiu
sangat menanggapi dengan bijak perbincangan-perbincangan yang dilakukan bersama
dengan menghadirkan mahasiswa ataupun penyuka sastra lainnya.
Hal-hal yang
disampaikan oleh sastrawan tersebut banyak menceritakan tentang pengalamn
mereka mengenal si penulis dan membahas mengenai perbincangan tentang isi dari
puisi-puisi tersebut. Mulai dari sampul, isi puisi, judul puisi, pemilihan
diksi, bentuk layout atau tata letak
dan pengalaman-pengalaman yang beliau peroleh dibaghas diperbincangan tersebut.
Bagi pembaca bahasa
atau diksi yang ada dalam puisi tersebut mudah dipahami maksudnya namun tidak
banyak orang yang mengerti arti dari judul-judul yang tak lazim tersebut. Sehingga
pembaca yang tidak mengetahui hal tersebut merasa kebingungan dengan artinya
namun itulah yang membuat pembaca penasaran untuk dibaca karena ketidaktahuan
pembaca mengenai artinya.
Mengenai perbincangan
dengan dilakukan suatu acara, seorang audience
bertanya mengenai aturan-aturan penulisan yang dilakukan si penulis tidak
sesuai dengan kaidahnya. Beliau menjawab karena ini adalah puisi maka beliau
tidak terlalu berpedoman dengan aturan-aturan penulisan bahasa Indonesia. Jika ia
menulis suatu cerpen ataupun tulisan formal pastilah akan sesuai dengan aturan
yang ada beliau menjawab dengan bijaknya.
Maka dari
tulisan-tulisan puisi beliau banyak sekali ditemukan ketidak sesuaian tulisan
dengan ejaan atau aturan. Namun bagi pembaca yang sasaran baca usia remaja hal
tersebut tidak dijadikan masalah untuk seseorang menulis yang terpenting
tulisan sekecil apapun jika ditekuni akan menciptakan suatu karya yang
bermanfaat. Tulisan juga disesuaikan dengan sasaran baca yang akan dituju. Dan
nantinya dapat menumbuhkembangkan ide-ide yang penulis lakukan untuk menambah
ilmu dan pengalamannya selama ini agar menjadi penulis yang aktif, kreatif,
cerdas dan inovatif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar