Rabu, 28 Desember 2016
tugas lain
tugas lain yang tidak di post antara lain :
1. membuat surat untuk guru TK/SD
2. MEnulis esai tentang diri sendiri dari kecil-sekarang.
3. menanggapi esai atau puisi dari bapak Setia naka
mengomentari esai teman
Nama : Fitria Ningrum
Kelas : 3E PBSI
Npm : 15410206
Kurangnya Penyajian Pentas
Esai Siti Hadiyanti Indah Lestari dalam tulisannya tetntan pementasan drama yang dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2016 di GP lantai 7 Universitas PGRI Semarang ini cukup menarik. Sekelompok komunitas mahasiswa dalam suatu teater dapat mengemas dua pertunjukan menjadi sangat menarik daya pikat penontonnya. Teater Gema nama sekelompok tersebut yang kini dapat mewakili dari kampus Universitas PGRI Semarang untuk mengikuti lomba drama tingkat Nasional. Gema mengemas dua pertunjukan dengan baik karena telah memiliki banyak pengalaman-pengalaman yang banyak. Kesalahan memang selalu ada dalam suatu kegiatan namun hal tersebut menjadi suatu hal landasan mereka untuk tetap menjadi lebih baik.
Sebenarnya hal-hal yang kurang dalam pementasan itu tetap ada namun pertunjukan yang disuguhkan membuat penonton tidak mengerti di mana letak kesalahan tersebut. Mulai dari jam pementasan molor, terjadinya hal tersebut membuat penonton sedikit kecewa karena sudah menunggu lama dan berdesakan pula pementasan tidak segera dilaksankan dan hal itu hampir membuat penonton kecewa. Dalam tulisan Indah memang sudah ada kesalahan-kesalahan atau kekurangan dalam pementasan tersebut,namun kurang lengkap dalam pembahasannya. Sepenggal kalimat dalam tulisan Indah kurang dipahami maksudnya untuk dibaca. “cerita asmara jaka tarub bermulai dari mimpi yang di dapatkan jaka saat muda dan sangat dipercayainya. “ hal itu kurang penjelasan apa yang sebenarnya tentang sangat dipercayainya. Mimpi atau cerita asmara Jaka Tarub?
Peran apa?
Tulisan indah tidak dijelaskan bahwa peran apa yang diperankan oleh Tomo dan Topo dalam cerita. Ada hal negative dan positifnya yang dapat ditangkap oleh penonton. Hal negatifnya yaitu peran Tomo dan Toko tidak terlalu jelas dalam cerita,dan hal positifnya dapat memberikan serta menutupi ketika adegan Jaka tarub dan Nawangwulan menikah lalu dikarunia seorang anak yang dikandung Nawangwulan. Jika tidak diselingi munculnya tokoh Tomo dan Topo sepertinya cerita tersebut kurang masuk akal.
“suatu hari jaka merasa aneh saat lumbung padi miliknya susah mendapatkan air,……”tulisan itu sedikit tidak bisa dipahami bahwasanya lumbung padi adalah tempat menyimpan padi tetapi Indah menjelaskan lumbung padi tidak mendapatkan air. Kemungkinan yang dimaksud susah mendapatkan air adalah sawah milik Jaka Tarub. Memang benar apa yang dikatakan Indah semua peran yang ditunjukkan dalam pementasan drama tersebut sangat menjiwai karakter masing-masing perannya. Background dan backsound menjadi tambahan kesempurnaan pentas tersebut. Lighting atau pencahayaannya memang menarik dan sesuai dengan ceritanya. Untuk adegan salah satu bidadari yang jatuh itu sepertinya memang tidak disengaja dan tidak terlalu fatal karena ada respon dari pemain lainnya sehingga itu terlihat seperti settingan adegan. Tambahan untuk kekurangan pementasan yaitu dalam segi luar cerita, terjadinya molor jam tadi, dua pembawa acara kurang komunikatif terhadap penonton jadi kesannya seperti garing dalam pembawaanya. Salah satu pemain juga mengenakan sandal(sandal gunung), memang tampilan mereka casual tetapi dalam sebuah acara peran pembawa acara juga termasuk dalam acara tersebut. Sebaiknya jika membawakan suatu acara alangkah lebih baik jika mengenakan sepatu meskipun pertunjukan tersebut bersifat bebas. Lalu suara pemain kurang jelas dalam adegan bidadari-bidadari turun ke bumi.
Untuk selanjutnya yaitu pementasan monolog balada sumarah. Monolog balada sumarah yang dimainkan oleh anggota Gema inilah yang akan mewakili kampus Universitas mengikuti lomba Nasional. Penulis naskah ini menjelaskan mengenai sedikit cerita dan meminta doa agar lolos dalam lomba Nasional tersebut. Awal dalam pementasan memang tidak mengerti apa yang penonton akan lihat nantinya,karena didalam panggung hanya berisikan sebuah kotak besar yang di sinari lampu yang sangat bagus. Ternyata dalam sebuah kotak tersebut berisikan sebuah wanita berbaju putih dan berkerudung yang menjadi peran sebagai Sumarah. Monolog Balada sumarah ini menceritakan mengenai dendam seorang wanita terhadap orang-orang yang telah mendiskriminasinya dan dia merasakan dendam akibat ulah ayahnya masa lalu. Ia merasakan dendam dan tidak terima akan hal yang dilakukan ayahnya itu sehingga membuat dia yang selalu dibayangi rasa bersalah meskipun dia tidak mengerti letak kesalahannya. Penonton sangat dikagumkan dengan pemeran Sumarah yang mampu menjadi beberapa karakter dalam sebuah pertunjukan. Memang luar biasa cerita tersebut membuat penonton penasaran akan hal selanjutnya yang diperankan oleh Sumarah. Pemain sangat menjiwai peran tersebut sehingga tidak menampilkan kesan membosankan seperti apa yang telah diungkapkan dalam tulisan Indah “membuat segalanya menjadi benar-benar terjadi,tidak membosankan bahkan sangat menarik minat penonton.”
Monolog balada sumarah memang pantas dan cocok untuk maju ke tingkat Nasional dan mewakili Universitas PGRI Semarang. Cerita yang disampaikan sudah jelas dan dapat ditangkap oleh penonton yang melihatnya. Penonton bahkan bisa merasakan cerita tersebut disampaikan dan sedikit terharu melihat adegan tersebut. Semoga merekalah yang menjadi juara di tingkat Nasional.
menanggapi opini teman
Mengenai tulisan yang berjudul “ Keadilan yang Mengendap” merupakan sebuah aspirasi, curahan hati,ataupun pengaduan terhadap pemerintah. Seharusnya bukan seperti itu peran pemerintah terhadap guru, pemerintah harus bertindak adil terhadap seluruh guru-guru yang telah memiliki sertifikasi. Pada dasarnya guru yang telah mencapai sertifikasi harus mendapatkan haknya terhadap apa yang telah dicapainya. Mereka juga memiliki keluarga yang perlu akan kepentingan setiap harinya. Guru yang telah memiliki sertifikasi saja masih merasakan ketidak adilan pemerintah,apalagi guru honorer yang belum mendapatkan tunjangan. Mereka berusaha mengejar kuota 24jam sesuai struktur kurikulum 2013 agar mendapatkan tunjangannya. Tetapi,kini hal tersebut malah menjadi masalah pemerintah akibat dari kebijakan pendidikan. Guru sertifikasi yang menggeluti bidang akademiknya saja masih belum mencukupi kuota mengajarnya maka mereka beralih ajar ke bidang lainnya demi mecapai kuota tersebut. Pemerintah seharusnya dapat mengatasi permasalahan mengenai pemerataan tunjangan penghasilan guru. Jika pemerintah mengupayakan agar tunjangan tersebut tidak mengendap maka pemerintah juga harus mengawasi kinerja guru agar apa yang telah diupayakan tidak mengecewakan. Sebaliknya, guru juga harus meningkatkan kualitas kinerjanya agar tidak terjadi masalah-masalah pengendapan dana tunjangan penghasilan.
membalas surat pak naka
Selamat malam juga bapak dosen penulisan media massa yang berbahagia yang tak henti-hentinya memberi wejangan-wejangan indah di setiap pertemuan kita. Karena,setiap pertemuan kita meninggalkan sebuah arti untuk kehidupan kelak kami nantinya.
Bapak kabar kami sehat selalu, bagaimana dengan keadaan keluarga bapak? Tak henti-hentinya doa dan ucapan syukur kami panjatkan untuk orang-orang terkasih yang selalu ada dalam lindungan-Nya. Kami tidak merasa terkejut akan hal mendadak yang bapak sampaikan kepada kami, hanya saja sedikit bingung untuk membalas surat bapak ini. Apa yang akan dibicarakan dan apa yang akan diungkapkan untuk Bapak. Ada hal lain yang mungkin bapak rasa janggal dalam kelas kami. Kemungkinan bapak merasakan kesunyian dalam setiap pertemuan dan mungkin hanya ada beberapa penghuni saja yang mampu merespon pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada kami. Kelas kami terhitung banyak yang tidak berbicara mungkin karena malas,capek,tidak ada topic yang dibicarakan,ngantuk ataupun hal lain yang menyebabkan hal itu terjadi. Saya saja merasakan hal itu ketika saya mengajak rekan–rekan di kelas saya untuk diskusi terkait hal hal yang bersangkutan dengan kelas. Saya juga bingung mengapa dari sekian banyak orang hanya beberapa saja yang berbicara padahal kita sama-sama berjuang untuk kelas.
Bapak dosen yang luar biasa akan semua karyanya, saya mengakui jika dalam kuliah bapak saya kurang aktif berbicara karena saya ternyata masih bingung untuk mencerna pertanyaan-pertanyaan yang bapak sering berikan. Mungkin bisa menjawab namun agak sedikit lama untuk memahami pertanyaan tersebut. Saya merasakan hal itu jadi saya cenderung diam dan memikirkan apa maksud dari pertanyaan-pertanyaan yang Bapak berikan.
Bapak, terkait dalam perkuliahan saya memang kurang mengerti maksud yang akan dipelajari dalam penulisan media ini, yang saya tahu hanya saya ditugaskan untuk merangkai kata-kata indah sebegitu banyaknya kelak jika kami menulis skripsi kami tidak terlalu kaget akan hal kalimat yang sangat luar biasa banyaknya itu. Serta untuk menggali potensi kami untuk selalu berkarya.benar bukan Bapak?
Bapak, saya juga mendengar dari beberapa orang mengenai hal yang sama seperti yang saya alami ini. Lalu bagaimana bapak agar kami dapat berani mengutarakan hal-hal yang ingin disampaikan jika kami belum dapat mencerna pertanyaan bapak dengan baik. Rasanya ingin berbicara namun hal yang akan dibicarakan itu saja kami tidak mampu untuk menjelaskan.
Terkait dengan hal malas membaca itu memang penyakit yang susah diniati. Andaikan niat dan perjuangan itu seimbang hal itu akan terasa gampang dijalani. Memang bapak,saya sedikit malas untuk membaca, bukan malas sebenarnya terkadang waktu saya bapak yang tidak terprioritas. Keseharian saya bukan hanya kuliah bapak, saya membantu ibu saya berjualan di Kantin SD lumayan dekat dengan rumah. Terkadang saya bingung membagi waktu untuk belajar, setiap paginya saja ditugasi ibu saya untuk belanja bahan-bahan yang akan di masak untuk jualan. Lalu selepas belanja mandi berangkat jualan, sela-sela jualan sebelum pada istirahat biasanya saya gunakan untuk memberesi pekerjaan rumah lalu berangkat kuliah. Selepas itu sore sudah lelah dalam perjalanan karena saya laju dan jalanan macet sana sini terkadang membuat saya sering ketiduran. Begitu terus setiap harinya, kadang hanya membaca beberapa berita saja di internet kompas.com. intinya saja sebenarnya tidak berterus-terusan malas untuk membaca hanya saja saya sempatkan setiap harinya untuk membaca berita agar tidak tertinggal dengan berita-berita lain. Maafkan saya pak jika membaca saya nomer duakan.
Bapak,maafkan saya dengan segala kekurangannya. Untuk pertanyaan mengenai motivasi saya hidup ya pasti kedua orang tua saya bapak. Saya ingin membahagiakan mereka. Lalu untuk apa saya kuliah, saya bercita-cita menjadi guru karena pekerjaan itu adalah pekerjaan mulia menurut saya. Untuk yang masih bicara di dalam kelas saya juga tidak mengerti solusi apa yang harus di berikan kepada kelas saya. Saya juga sudah lelah pak mereka masih susah untuk diajak berdiskusi. Kalau tidak berbicara sendiri ya pastilah bermain gadget. Sama saja kita berbicara namun tidak ada yang mendengarkan. Maafkan kelas kami yang nakal ini ya pak..
Bapak perlahan saya akan berusaha menggali potensi yang ada dalam diri saya namun saya berharap bapak tetap memberikan motivasi serta wejangan-wejangan untuk kami. Agar kelak kami dapat sukses seperti bapak dengan sejuta karyanya yang luar biasa.
Maaf Bapak jika saya membalas surat ini terlampau sedikit menyinggung perasaan bapak saya harap bapak memaafkannya. Saya juga sudah membalas sepenuh hati surat bapak ini kelak bapak juga dapat memberikan motivasi kepada kelas kami aagar tetap kompak dan solid. Serta semoga rekan-rekan kelas saya bahkan saya sendiri lebih berani utuk mengutarakan segala yang ada dalam pemikiran serta dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan bapak kepada kami. Sekali lagi saya memohon maaf kepada bapak jika ini menyinggung perasaan bapak. Terima kasih. (Fitria Ningrum- 3E PBSI)
Kritikus dengan karyanya
Nama : Fitria Ningrum
Kelas: 3 E PBSI
Npm : 15410206
Kritikus dengan Karyanya
Karya sastra merupakan karya seseorang yang dibuat untuk dinikmati masyarakat lain seperti halnya buku. Rabu,19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang menggelar sebuah acara yakni Launching Gebyar Bulan Bahasa bedah buku dengan tema “3 Buku,3 Pembaca,3 Kritikus,serta 1 Pengarang” karya Triyanto Triwikromo. Buku yang berjudul Bersepeda ke neraka,Selir Musim Panas dan Sesat Pikir Para Binatang merupakan buku-buku yang ada dalam acara tersebut. Sebuah acara yang berlangsung nampak megah ini adalah salah satu rangkaian acara Bulan Bahasa yang diselenggarakan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Tiap tahunnya Fakultas Bahasa dan Seni menyelenggarakan serangkaian acara guna memperingati hari sumpah pemuda tanggal 28 Oktober besok.
Acara ini berlangsung dengan iringan lagu-lagu indah atau musikalisasi puisi dari salah satu band Biscuittime yang membuat acara ini lebih berkesan dengan lantunan puisi yang dinyanyikan oleh band tersebut. Biscuittime dengan 3 personil ini juga meriliskan albumnya dalam acara tersebut. Band ini menyanyikan beberapa lagu karyanya untuk menyambut para tamu undangan sekaligus bapak Rektor.
Sebenarnya acara ini sangat mengesankan namun karena waktu yang sering kali terjadi kemunduran membuat para tamu sedikit jenuh meskipun sudah ada hiburan dari Biscuittime itu. Menunggu merupakan suatu kebosanan dikala ada hal-hal yang diinginkan tak kunjung tercapai. Sedikit waktu menunggu kejenuhan dalam acara tersebut terbayar akan mulainya acara tersebut. Dipandu oleh salah satu dosen untuk membuka acara dan menyambut bapak Rektor. Seiring waktu berjalan suguhan-suguhan dari penampilan mahasiswa lain sangat mengesankan. Terbukti dengan salah seorang yang mendapat album lagu dari Biscuittime ini. Band tersebut menantang siapa saja yang dapat menyanyikan lagu karya mereka akan mendapat album tersebut. Lalu suguhan penampilan yakni tarian dance semacam tari balet,lalu pembacaan cerpen atau apalah kurang paham dalam pembawaanya. Suarapun tidak terdengar terkesan monoton jadi kurang dipahami maksud dari penampilan tersebut. Selanjutnya tari tradisional pesisir pantai,tarian ini semacam tarian klasik namun pembawaanya terdapat narasi dan alur ceritanya semacam tari dan drama dikolaborasikan. Nampak terlihat mengesankan. Penampilan-penampilan tersebut disutradarai oleh Wawan coret dan hasil karya dari FPBS serta dukungan dari Ibu Dekan.
Acara inti yakni acara bedah buku yang dipandu oleh bapak Harjito. Pembawa acara ini nampak grogi maka beliau terlihat salah tingkah di depan penonton. Pembacaan puisi dari Rektor dan Wakil Rektor merupakan sedikit hiburan yang mengesankan dan membuat mahasiswa bangga dengan Rektornya. Beliau membacakan puisi dan menyanyikan sedikit lagu karya beliau. Wakil rector juga membacakan puisinya dan menyanyikan lagu dan berpuisi. Sesuai judul dan tema yang ada “3 buku,3 pembaca, dan 3 kritikus ini mengundang tiga pengarang yang menjadi tamu undangan dalam acara ini yakni Dr. Nur Hidayat, Drs. S.Prasetyo Utomo.M.Pd, Widyanuri Eko Putro.S.P. Mereka adalah tiga kritikus dalam bedah buku ini. Sedikit nampak monoton karena pembawa acaranya terlalu terburu-buru dan memotong banyak pembicaraan dari kritikus tersebut. Untuk pemahaman yang disampaikan mereka nampak kurang dimengerti karena kurang efektifnya acara. Terlihat jelas bahwa ketika mereka sedang membahas buku-buku tersebut serta pengarangnya tak banyak yang didengarkan dalam acara tersebut. Banyak yang berbicara menjadi suasana nampak gaduh serta mondar-mandir mahasiswa yang hendak keluar sebelum acara tersebut usai membuat acara nampak terabaikan. Sebaiknya jika ada acara yang belum usai tidak diperkenankan untuk keluar dengan berbagai macam alas an tersebut. Perlu penjagaan yang ketat demi lancarnya acara tersebut.
Bukan penting tidaknya suatu acara namun jika acara tersebut dihargai akan terlihat bahwa acara tersebut memberikan hal-hal positif yang kita dapatkan untuk tetap berkarya. “Tirulah tingkah lakunya dan hasil nyatanya untuk berkarya” sedikit kutipan dari seseorang entah siapa yang menyuarakan. Beliau mengajak kita untuk meniru tingkah laku pengarang hebat yakni Triyanto Triwikromo. Beliau adalah penyair hebat yang diundang untuk memberikan motivasi-motivasi mahasiswa agar tetap terus berkarya dan bersastra. Beliau sudah banyak menulis buku dan kumpulan puisi karyanya. Tak disangka pengarang tersebut merasa terharu akan adanya acara ini. Beliau berterima kasih akan diselenggarakannya acara ini. Sebenarnya sedikit menarik perhatian pendengar motivasi dari beliau yang mana tidak menyombongkan diri akan karya-karyanya. Banyak pengalaman dan wawasan serta wejangan yang disampaikan untuk para pendengar dalam bersastra.
Kurang efektifnya acara dan banyaknya kegaduhan yang muncul membuat acara tersebut dirasa mahasiswa hanya acara biasa namun sebenarnya akan memunculkan karya yang luar biasa jika diawali dengan niat. Bukan tidak mau berkarya hanya saja niat yang tidak ada.
“tak ada gading yang tak retak” ucapan dari pembawa acara tersebut, karena dirasa acara tersebut kurang dari sempurna maka perlu adanya evaluasi untuk kedepannya. Acara tersebut juga sebagai acara pembukaan Bulan Bahasa Universitas PGRI Semarang.
Komentar menimbang UN
Komentar Menimbang UN
Saya sependapat dengan tulisan tersebut bahwa Ujian Nasional diadakan untuk menguji seberapa mampu seseorang dalam memahami apa yang telah dipelajarinya selama proses belajar di sekolah. Seperti yang ada dalam undang-undang nomor 20 tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang bertujuan untuk mengukur pencapaian kompetensi lulusan pada mata pelajaran secara nasional dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan(SKL). Tentu untuk menentukan suatu kelulusan harus berdasarkan nilai UN tersebut meskipun sekolah-sekolah juga menerapkan sistem penilaian campuran antara nilai raport dengan nilai ujian sekolah maupun ujian nasional. Bahkan jika tidak diadakan UN maka siswa akan mengabaikan proses belajarnya. Memang sangat banyak beban yang didapat siswa ketika akan menghadapi UN namun sebaiknya tetap perlu diadakan UN saja,karena proses belajar yang menentukan nilai seseorang. Bukan hasil saja yang dicapai untuk mengetahui tingkat kemampuan seseorang.
Namun, saja juga tidak sependapat dengan tulisan beliau karena UN dirasa tidak efektif jika tetap diadakan. Beetahun-tahun mencari ilmu dari banyaknya mata pelajaran hanya ditentukan oleh 3-4hari saja dengan beberapa mata pelajaran aaja yang diujikan. Hal tersebut sangatlah tidak efektif jika tetap dilaksanakan terus menerus. Dampak yang diperoleh orangtuapum juga banyak, Sudah kehilangan biaya untuk mendaftarkan anaknya di bimbingan belajar guna mendapatkan nilai yang memuaskan. Untuk siswanya pun berdampak pula, siswa banyak terbebani oleh adanya UN. Banyak menimbulkan oknum kecurangan seperti halnya bocornya kunci jawaban yang dianggap sudah dirasa sangat penting saja tetap bisa di dapatkan. Meskipun setiap tahunnya tertangkap oknum-oknum yang memperjualbelikan kunci jawaban tersebut tetapi tidak membuat jera orang-orang yang menyebarkannya. Sebaiknya pemerintah perlu menegaskan solusi apa yang dilakukan. Pembenahan fasilitas perlu dilakukan di sekolah-sekolah guna memperlancar proses belajar mengajarnya. Penyebaran guru-guru berkualitas juga harus diperhatikan terutama di daerah-daerah yang kekurangan guru tersebut sehingga pemerolehan ilmunya juga merata. Serta standar penilaian yang ditentukan pemerintah juga seharusnya disebarkan secara menyeluruh.
Fitria Ningrum(3E PBSI)
esai jaka tarub
Nama : Fitria Ningrum
Npm : 15410206
Kelas : 3E
Jaka Tarub
Sebuah legenda pasti memiliki kearifan cerita di masing-masing tempat atau daerah. Pada hakekatnya sebuah tempat memiliki sebuah cerita atau asal-usul tempat yang mana cerita tersebut pasti ada keunikan dari masing-masing ceritanya. Di Indonesia hampir semua tempat penuh dengan cerita legenda. Cerita tersebut disampaikan secara lisan dan disampaikan secara turun-temurun. Cerita rakyat mungkin memang hanya cerita fiktif yang dikarang oleh leluhur dan diceritakan turun temurun ke generasinya. Namun ada pula yang memang cerita tersebut merupakan kisah nyata. Adanya kisah tersebut pasti memiliki nilai-nilai kehidupan yang bisa dijadikan sebagai cerminan dalam kehidupan di masa sekarang.
Seperti halnya dalam cerita Jaka Tarub yang dipentaskan pada hari Rabu,4 Oktober 2016 oleh Teater Gema Universitas PGRI Semarang. Pentas tersebut dimainkan oleh mahasiswa-mahasiswa UPGRIS dan dihadiri oleh tamu undangan dari SMA N 1 Bringsing Batang serta mahasiswa UPGRIS sendiri. Pentas tersebut merupakan juara dari universitas-universitas lain di Jawa Tengah. Tak hanya menampilkan drama Jaka Tarub,Gema juga menampilkan sebuah monolog yang berjudul Sumarah. Drama Jaka Tarub tersebut menampilkan sebuah cerita ketika Nawang beranjak dewasa dan ayahnya yang sudah tua belum ingin ditinggalkannya. Nawang menanyakan tentang ibunya yang telah meningggalkannya.
Drama tersebut menceritakan mengenai seorang pria yang ditinggal mati ibunya dan masih memiliki janji kepada ibunya untuk menikah. Namun janjinya belum sempat ditepati oleh pria tersebut ketika ibunya masih hidup. Pria itu bernama Jaka Tarub dan kerap dipanggil Jaka. Jaka bermimpi menikah dengan gadis cantik dari kayangan atau kerap disebut bidadari. Jaka dinasihati oleh kang bono agar tidak menghayal dengan mimpinya. Tetapi Jaka tidak menggubris omongan kang bono. Jaka memiliki hobi berburu di hutan. Ketika ia hendak berburu dia masuk ke hutan dan mencari buruan di dalam hutan. Dia menyusuri sepanjang hutan,ketika ia berjalan dia mendengar gadis-gadis berbincang diatas bebatuan. Jaka penasaran dengan apa yang dilihat dan didengarnya ternyata dia melihat 7 bidadari cantik yang akan berendam di sungai tersebut. Jaka bersembunyi dibalik batu besar diantara semak-semak. Gadis-gadis tersebut turun dari kayangan dan hendak mandi di bumi karena lama tidak berendam atau mandi.7 bidadari itu memiliki sebuah selendang yang dikenakan untuk terbang ke kayangan. Mereka melepas selendang itu ketika hendak mencebur ke sungai. Jaka mengambil sebuah selendang berwarna kuning milik Nawang Wulan. Nawang wulan merupakan bidadari tertua diantara ke enam bidadari tersebut. Akhirnya mereka masuk ke sungai untuk mandi dan berbincang serta bersendau gurau. Salah seorang bidadari tersebut mengingatkan bahwa hari hampir petang dan mereka harus kembali ke kahyangan, maka mereka lekas mengambil selendangnya masing-masing. Namun salah seorang bidadari tidak menemukan selendangnya yaitu Nawang Wulan. Selendang tersebut diambil dan disembunyikan oleh Jaka. Akhirnya Nawang meminta adik-adiknya untuk kembali ke kahyangan dan dia berencana mencari selendangnya. Adik-adiknya khawatir dengan kondisi Nawang jika dia harus ditinggal di Bumi,tetapi nawang meyakinkan ke adik-adiknya bahwa dia bisa menjaga dirinya dengan baik dan dia berjanji jika kelak selendangnya ketemu dia akan segera kembali ke kahyangan. Dengan perasaan sedih ke enam adiknya meninggalkan Nawang dan mereka kembali ke kahyangan dengan selendangnya.
Nawang akhirnya mencari selendangnya tetapi tidak ditemukan. Akhirnya Nawang bersedih di dalam sungai. Nawang berjanji jika selendang itu ketemu jika yang menemukan perempuan akan dijadikan saudaranya dan jika laki-laki yang menemukan maka dia berjanji untuk dijadikan suaminya kelak. Jaka mendengarkan apa yang diucapkan oleh Nawang dan dia menghampirinya. Jaka memastikan apa yang diucapkan oleh nawang itu benar atau tidak. Nawang menjawab dengan tegas dan membenarkan apa yang dijanjikan olehnya. Akhirnya Jaka mengajak Nawang pulang kerumahnya dengan membawa sebuah baju milik ibunya untuk dipakai oleh Nawang. Nawang menyetujui hal tersebut dan lekas memakai baju yang diberikan oleh Jaka. Akhirnya nawang dan jaka pulang dan menikah. Di salah satu desa Jaka akan diadakan pemilihan Lurah Topo dan Tomo mencalonkan diri sebagai calon Lurah dan mereka berdebat mengenai kecerdasan yang dimilki keduanya dan menguji calon satu dengan yang lain. Akhirnya mereka menuju ke kelurahan untuk mendaftarkan diri. Setelah menikah lalu nawang hamil, ketika jaka pulang dari hutan atau sawah dia menemui istrinya yang sedang mengandung anaknya. Ketika berada di depan rumah Jaka menanyakan ke istrinya mengapa keanehan dalam rumahnya itu selalu ada. Jaka menanyakan mengapa persediaan padi yang dimilikinya tidak pernah habis,padahal setiap hari dia memasaknya untuk dia dan suaminya si Jaka. Nawang meyakinkan Jaka agar tidak timbul rasa kecurigaan dalam diri Jaka. Nawang berkata” itu hal yang wajar akang,karena akang bekerja dengan giat dan mencari kerja secara halal jadi rezeki yang akang miliki berlimpah.” Tetapi lambat laun rasa penasaran dalam diri Jaka semakin tinggi. Tetapi, Jaka bersikap sewajarnya ketika nawang menjelaskan hal tersebut. Lalu nawang menanyakan kepada suaminya akan diberi nama apa untuk anaknya kelak. Jaka menjawab dan mengelus perut istrinya sembari memikirkan nama yang tepat untuk anaknya. Jaka member nama anaknya Jaka … untuk anak laki-laki dan Nawangsih untuk anak perempuan jika sudah lahir nanti. Nawangpun menyetujuinya. Akhirnya mereka masuk kerumah karena hari mulai petang. Nawang berteriak kesakitan dan sepertinya ia akan melahirkan. Jaka Nampak panik dan kebingungan. Akhirnya jaka meminta salah satu dukun beranak kerumahnya untuk membantu proses melahirkan istrinya. Nenek tua itu adalah dukun beranak yang dipanggil Jaka. Kebingungan dari jaka terlihat ketika nenek itu berjalan tetapi sangat lama sekali karena memang sudah tua. Niat jaka sebenarnya ingin menggendong nenk itu namun nenek menolaknya. Sesampai di rumah Jaka,nenek itu segera membantu Nawang melahirkan. Kekhawatiran dan kegelisahan Jaka ketika istrinya melahirkan Nampak terlihat di wajah Jaka. Berulang-ulang Jaka memanggil dukun tua itu dan menanyakan bagaimana keadaan bayi dan istrinya itu. Setelah cukup lama akhirnya Nawang melahirkan bayi perempuan. Nawang dan Jaka membri nama Nawangsih seperti apa yang telah disepakati keduanya itu.
Belajar dari cerita
Hal yang telah disepakati dan dijanjikan seharusnya ditepati oleh kedua belah pihak yang menyetujui hal tersebut. Namun dalam hal ini janji yang telah disepakati keduanya diingkari oleh Jaka. Sepintar-pintarnya seseorang menyembunyikan hal sesuatu yang tidak baik akan ketahuan juga oleh orang lain. Seperti pepatah sepandai-pandainya menyembunyikan kebusukan pasti akan tercium juga kebusukan tersebut.
Pagi hari ketika Jaka mengasah cangkulnya dia dihampiri oleh istrinya. Dia berbincang-bincang dengan istrinya dan dia menitipkan Nawangsih kepada suaminya karena dia akan pergi ke sungai untuk mencuci baju. Nawang pamit dengan suaminya,tetapi sebelum berangkat sempat Jaka menanyakan istrinya sedang memasak apa. Nawang menjawab dan berpesan kepada suaminya itu bahwa nawang sedang memasak dan jangan sekali-kali Jaka membuka tutup panci tersebut. Jaka berjanji kepada istrinya untuk tidak membukanya. Lalu nawang pergi ke sungai. Ketika nawang pergi ke sungai, Jaka penasaran dengan pesan yang disampaikan istrinya itu. Akhirnya Jaka mengintip panic tersebut. Jaka kaget dengan apa yang ada di dalam panci tersebut. Di dalam panci tersebut berisi seikat padi yang dimasak dalam panci. Beberapa saat kemudian Nawang pulang, lalu Jaka menanykan apa yang telah di lihat tadi. Nawang kaget dan marah terhadap perlakuan Jaka. Dia telah mengingkari janjinya untuk tidak membuka tutup tersebut. Nawang menangis dan menyesali perbuatan suaminya itu. Nawang berkata bahwa kesaktian yang dimilikinya telah hilang akibat ulah suaminya yang mengingkari janjinya. Nawang kembali masuk kerumah dan membuka tempat menyimpan padi dan mengeluarkan seikat padi dan menjelaskan kesaktian apa yang dimilkinya sehingga padi yang selama ini dimilki tidak pernah habis meskipun sudah dimasak. Nawang menemukan selendangnya ditempat menyimpan padi dan menanyakan apa sebenarnya yang telah terjadi. Ternyata yang mencuri selendangnya itu adalah suaminya sendiri si Jaka.
Nawang sangat kecewa dengan suaminya itu,akhirnya nawang meninggalkan Jaka dan berniat kembali ke kahyangan meninggalkan Jaka dan anaknya. Jaka mencari nawang ke dalam hutan dan memintanya unnuk kembali demi Nawangsih anaknya. Nawang kembali ke kahyangan dan berpesan kepada Jaka untuk merawat anaknya, dan tetap memenuhi kewajibannya sebagai ibu untuk nawangsih. Nawang meminta jika bulan purnama datang anaknya dibawa ke mata air yang ada di sungai tersebut sendiri saja. Akhirnya nawang pergi dan Jaka menyesali kepergian nawang.
Pada akhirnya sesuatu yang dilakukan secara fatal akan menimbulkan penyesalan dalam kehidupannya. Serta kebohongan yang disembunyikan akan nampak terlihat suatu saat seiring berjalannya waktu. Cerita tersebut mengajarkan bahwa sepahit-pahitnya kejujuran harus dikatakan atau diucapkan jika tidak ingin menyesal akhirnya. Cerita tersebut sangat menarik dan telah dikembangkan menjadi sebuah drama yang luar biasa agar cerita rakyat tetap ada secara turun temurun dari generasi satu ke generasi lainnya.
Langganan:
Komentar (Atom)