Rabu, 28 Desember 2016

esai jaka tarub

Nama : Fitria Ningrum Npm : 15410206 Kelas : 3E Jaka Tarub Sebuah legenda pasti memiliki kearifan cerita di masing-masing tempat atau daerah. Pada hakekatnya sebuah tempat memiliki sebuah cerita atau asal-usul tempat yang mana cerita tersebut pasti ada keunikan dari masing-masing ceritanya. Di Indonesia hampir semua tempat penuh dengan cerita legenda. Cerita tersebut disampaikan secara lisan dan disampaikan secara turun-temurun. Cerita rakyat mungkin memang hanya cerita fiktif yang dikarang oleh leluhur dan diceritakan turun temurun ke generasinya. Namun ada pula yang memang cerita tersebut merupakan kisah nyata. Adanya kisah tersebut pasti memiliki nilai-nilai kehidupan yang bisa dijadikan sebagai cerminan dalam kehidupan di masa sekarang. Seperti halnya dalam cerita Jaka Tarub yang dipentaskan pada hari Rabu,4 Oktober 2016 oleh Teater Gema Universitas PGRI Semarang. Pentas tersebut dimainkan oleh mahasiswa-mahasiswa UPGRIS dan dihadiri oleh tamu undangan dari SMA N 1 Bringsing Batang serta mahasiswa UPGRIS sendiri. Pentas tersebut merupakan juara dari universitas-universitas lain di Jawa Tengah. Tak hanya menampilkan drama Jaka Tarub,Gema juga menampilkan sebuah monolog yang berjudul Sumarah. Drama Jaka Tarub tersebut menampilkan sebuah cerita ketika Nawang beranjak dewasa dan ayahnya yang sudah tua belum ingin ditinggalkannya. Nawang menanyakan tentang ibunya yang telah meningggalkannya. Drama tersebut menceritakan mengenai seorang pria yang ditinggal mati ibunya dan masih memiliki janji kepada ibunya untuk menikah. Namun janjinya belum sempat ditepati oleh pria tersebut ketika ibunya masih hidup. Pria itu bernama Jaka Tarub dan kerap dipanggil Jaka. Jaka bermimpi menikah dengan gadis cantik dari kayangan atau kerap disebut bidadari. Jaka dinasihati oleh kang bono agar tidak menghayal dengan mimpinya. Tetapi Jaka tidak menggubris omongan kang bono. Jaka memiliki hobi berburu di hutan. Ketika ia hendak berburu dia masuk ke hutan dan mencari buruan di dalam hutan. Dia menyusuri sepanjang hutan,ketika ia berjalan dia mendengar gadis-gadis berbincang diatas bebatuan. Jaka penasaran dengan apa yang dilihat dan didengarnya ternyata dia melihat 7 bidadari cantik yang akan berendam di sungai tersebut. Jaka bersembunyi dibalik batu besar diantara semak-semak. Gadis-gadis tersebut turun dari kayangan dan hendak mandi di bumi karena lama tidak berendam atau mandi.7 bidadari itu memiliki sebuah selendang yang dikenakan untuk terbang ke kayangan. Mereka melepas selendang itu ketika hendak mencebur ke sungai. Jaka mengambil sebuah selendang berwarna kuning milik Nawang Wulan. Nawang wulan merupakan bidadari tertua diantara ke enam bidadari tersebut. Akhirnya mereka masuk ke sungai untuk mandi dan berbincang serta bersendau gurau. Salah seorang bidadari tersebut mengingatkan bahwa hari hampir petang dan mereka harus kembali ke kahyangan, maka mereka lekas mengambil selendangnya masing-masing. Namun salah seorang bidadari tidak menemukan selendangnya yaitu Nawang Wulan. Selendang tersebut diambil dan disembunyikan oleh Jaka. Akhirnya Nawang meminta adik-adiknya untuk kembali ke kahyangan dan dia berencana mencari selendangnya. Adik-adiknya khawatir dengan kondisi Nawang jika dia harus ditinggal di Bumi,tetapi nawang meyakinkan ke adik-adiknya bahwa dia bisa menjaga dirinya dengan baik dan dia berjanji jika kelak selendangnya ketemu dia akan segera kembali ke kahyangan. Dengan perasaan sedih ke enam adiknya meninggalkan Nawang dan mereka kembali ke kahyangan dengan selendangnya. Nawang akhirnya mencari selendangnya tetapi tidak ditemukan. Akhirnya Nawang bersedih di dalam sungai. Nawang berjanji jika selendang itu ketemu jika yang menemukan perempuan akan dijadikan saudaranya dan jika laki-laki yang menemukan maka dia berjanji untuk dijadikan suaminya kelak. Jaka mendengarkan apa yang diucapkan oleh Nawang dan dia menghampirinya. Jaka memastikan apa yang diucapkan oleh nawang itu benar atau tidak. Nawang menjawab dengan tegas dan membenarkan apa yang dijanjikan olehnya. Akhirnya Jaka mengajak Nawang pulang kerumahnya dengan membawa sebuah baju milik ibunya untuk dipakai oleh Nawang. Nawang menyetujui hal tersebut dan lekas memakai baju yang diberikan oleh Jaka. Akhirnya nawang dan jaka pulang dan menikah. Di salah satu desa Jaka akan diadakan pemilihan Lurah Topo dan Tomo mencalonkan diri sebagai calon Lurah dan mereka berdebat mengenai kecerdasan yang dimilki keduanya dan menguji calon satu dengan yang lain. Akhirnya mereka menuju ke kelurahan untuk mendaftarkan diri. Setelah menikah lalu nawang hamil, ketika jaka pulang dari hutan atau sawah dia menemui istrinya yang sedang mengandung anaknya. Ketika berada di depan rumah Jaka menanyakan ke istrinya mengapa keanehan dalam rumahnya itu selalu ada. Jaka menanyakan mengapa persediaan padi yang dimilikinya tidak pernah habis,padahal setiap hari dia memasaknya untuk dia dan suaminya si Jaka. Nawang meyakinkan Jaka agar tidak timbul rasa kecurigaan dalam diri Jaka. Nawang berkata” itu hal yang wajar akang,karena akang bekerja dengan giat dan mencari kerja secara halal jadi rezeki yang akang miliki berlimpah.” Tetapi lambat laun rasa penasaran dalam diri Jaka semakin tinggi. Tetapi, Jaka bersikap sewajarnya ketika nawang menjelaskan hal tersebut. Lalu nawang menanyakan kepada suaminya akan diberi nama apa untuk anaknya kelak. Jaka menjawab dan mengelus perut istrinya sembari memikirkan nama yang tepat untuk anaknya. Jaka member nama anaknya Jaka … untuk anak laki-laki dan Nawangsih untuk anak perempuan jika sudah lahir nanti. Nawangpun menyetujuinya. Akhirnya mereka masuk kerumah karena hari mulai petang. Nawang berteriak kesakitan dan sepertinya ia akan melahirkan. Jaka Nampak panik dan kebingungan. Akhirnya jaka meminta salah satu dukun beranak kerumahnya untuk membantu proses melahirkan istrinya. Nenek tua itu adalah dukun beranak yang dipanggil Jaka. Kebingungan dari jaka terlihat ketika nenek itu berjalan tetapi sangat lama sekali karena memang sudah tua. Niat jaka sebenarnya ingin menggendong nenk itu namun nenek menolaknya. Sesampai di rumah Jaka,nenek itu segera membantu Nawang melahirkan. Kekhawatiran dan kegelisahan Jaka ketika istrinya melahirkan Nampak terlihat di wajah Jaka. Berulang-ulang Jaka memanggil dukun tua itu dan menanyakan bagaimana keadaan bayi dan istrinya itu. Setelah cukup lama akhirnya Nawang melahirkan bayi perempuan. Nawang dan Jaka membri nama Nawangsih seperti apa yang telah disepakati keduanya itu. Belajar dari cerita Hal yang telah disepakati dan dijanjikan seharusnya ditepati oleh kedua belah pihak yang menyetujui hal tersebut. Namun dalam hal ini janji yang telah disepakati keduanya diingkari oleh Jaka. Sepintar-pintarnya seseorang menyembunyikan hal sesuatu yang tidak baik akan ketahuan juga oleh orang lain. Seperti pepatah sepandai-pandainya menyembunyikan kebusukan pasti akan tercium juga kebusukan tersebut. Pagi hari ketika Jaka mengasah cangkulnya dia dihampiri oleh istrinya. Dia berbincang-bincang dengan istrinya dan dia menitipkan Nawangsih kepada suaminya karena dia akan pergi ke sungai untuk mencuci baju. Nawang pamit dengan suaminya,tetapi sebelum berangkat sempat Jaka menanyakan istrinya sedang memasak apa. Nawang menjawab dan berpesan kepada suaminya itu bahwa nawang sedang memasak dan jangan sekali-kali Jaka membuka tutup panci tersebut. Jaka berjanji kepada istrinya untuk tidak membukanya. Lalu nawang pergi ke sungai. Ketika nawang pergi ke sungai, Jaka penasaran dengan pesan yang disampaikan istrinya itu. Akhirnya Jaka mengintip panic tersebut. Jaka kaget dengan apa yang ada di dalam panci tersebut. Di dalam panci tersebut berisi seikat padi yang dimasak dalam panci. Beberapa saat kemudian Nawang pulang, lalu Jaka menanykan apa yang telah di lihat tadi. Nawang kaget dan marah terhadap perlakuan Jaka. Dia telah mengingkari janjinya untuk tidak membuka tutup tersebut. Nawang menangis dan menyesali perbuatan suaminya itu. Nawang berkata bahwa kesaktian yang dimilikinya telah hilang akibat ulah suaminya yang mengingkari janjinya. Nawang kembali masuk kerumah dan membuka tempat menyimpan padi dan mengeluarkan seikat padi dan menjelaskan kesaktian apa yang dimilkinya sehingga padi yang selama ini dimilki tidak pernah habis meskipun sudah dimasak. Nawang menemukan selendangnya ditempat menyimpan padi dan menanyakan apa sebenarnya yang telah terjadi. Ternyata yang mencuri selendangnya itu adalah suaminya sendiri si Jaka. Nawang sangat kecewa dengan suaminya itu,akhirnya nawang meninggalkan Jaka dan berniat kembali ke kahyangan meninggalkan Jaka dan anaknya. Jaka mencari nawang ke dalam hutan dan memintanya unnuk kembali demi Nawangsih anaknya. Nawang kembali ke kahyangan dan berpesan kepada Jaka untuk merawat anaknya, dan tetap memenuhi kewajibannya sebagai ibu untuk nawangsih. Nawang meminta jika bulan purnama datang anaknya dibawa ke mata air yang ada di sungai tersebut sendiri saja. Akhirnya nawang pergi dan Jaka menyesali kepergian nawang. Pada akhirnya sesuatu yang dilakukan secara fatal akan menimbulkan penyesalan dalam kehidupannya. Serta kebohongan yang disembunyikan akan nampak terlihat suatu saat seiring berjalannya waktu. Cerita tersebut mengajarkan bahwa sepahit-pahitnya kejujuran harus dikatakan atau diucapkan jika tidak ingin menyesal akhirnya. Cerita tersebut sangat menarik dan telah dikembangkan menjadi sebuah drama yang luar biasa agar cerita rakyat tetap ada secara turun temurun dari generasi satu ke generasi lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar